Abi baru berangkat ke masjid untuk sholat isya ketika saya masuk kamar dan menemukan hape abi yang seharusnya dicharge, tapi abi tidak memperhatikan kalau chargernya tidak tercolok listrik. Saya yang mencabutnya tadi pagi sebelum berangkat.
Setelah memastikan lisriknya sudah tersambung, saya melihat ada pesan masuk di whatsapp abi. Isinya bertanya, di mana sekarang, apakah jadi datang.
Dalam hati saya sekilas terlintas, o abi ada janji rupanya. Mengapa tadi tidak cerita ya?
Lalu iseng saya menscroll up chattingan abi dengan orang tersebut.
Saya menemukan abi pernah memulai chatting dengan orang itu, teman letting abi di SMP. Yang membuat saya tidak enak bukan isi percakapannya, bukan sama sekali. Tetapi saya tidak habis pikir bila suamiku tercinta bercakap di dunia maya dengan perempuan lain bukan mahramnya tengah malam. Ya, tengah malam. Pukul 23 lewat.
Allah, suamiku yang lebih seringnya tidur jauh lebih dulu daripada saya. Suamiku yang kadang kutahan untuk tidak tidur terlalu cepat karena saya ingin sekedar bercakap melepas rindu dan manja ataukah kadang ingin berdiskusi tentang pendidikan anak-anak kami. Suamiku yang setiap malam ketika saya terjaga saya selalu mencari sosoknya untuk sekedar menggenggam tangannya. Suamiku yang rasanya ingin kupeluk sepanjang hariku.
Allah, dia suamiku yang kuimpikan menggandeng tanganku mesra memasuki pintu jannah-Mu.
Hanya kepadaMu ya Allah, saya mengadu malam ini.
...
Sepulangnya dari masjid abi langsung mendapatkan handphonenya. Membaca ruang chatting yang tadi kubiarkan terbuka.
"Ada yang janjian nih ye. Mauki ke mana abi?"
"O, itu, mau ketemu anak perkapalan".
Menahan diri untuk tidak menginterfensi apalagi berkesan menginterogasi.
Tapi tidak bisa, saya mau tahu.
"Abi ternyata chatting sama temannya malam-malam dih. Perempuan, buka mahram"
"Apa? Sama mamanya fahri?"
Rabbi, mengapa dibelokkan kepada sang kakak ipar yang saya tahu tidak punya whatsapp atau apalah yang bisa dipakai chatting? Tadi kan saya ngomongya chatting, bukan sms atau telponan.
"Saya sudah bilang, tidak qda gunanya itu grup2 alumni".
Dan saya merasa tatapan abi aneh, menyimpan amarah.
"Abi tidak menghargai saya. Masa abi chatting jam sebelas lewat sama orang lain. Tidak pentingji lagi bahasannya. Perempuan lagi, bukan mahram".
Diam. Dan saya tahu abi sedang membalas chat itu.
Lalu meminta tolong untuk menidurkan Habibi. Kemudian tampak sudah beranjak akan tidur, tapi bajunya tidak diganti. Aisyah yang menegur abi untuk ganti baju dulu sebelum tidur.
Kemudian menutup matanya, saya cegah dengan, "Janganki dulu tidur abi. Janjiku dulu tidak ada lagi grup pembicaraan kosong". "Iye", lalu menutup matanya lagi.
"Abi, kenapaki tidak minta maaf? Tidak merasaki kah kalau kita salah?". Dan abi mengangguk.
"Abi, di alqur'an, ada ayat, tidak boleh masuk kamar orang ba'da isya. Kita rasa nda sama kah hukumnya kalau kita ajak mengobrol orang tengah malam? Apa coba nabilang suaminya? Bagaimana coba kalau saya yang begitu?"
Dan seperti biasa, abi enggan membalas ocehanku. Matanya menatap kosong, berselang beberapa detik kemudian tertutup kembali.
Lalu abi betul-betul sudah terlelap. Dan saya mendapatkan fakta bahwa abi ada janji reunian malam ini.
Ya Allah, mengapa tidak jujur? Apa maksudnya tadi anak perkapalan?
Abi sudah lupakah bagaimana saya galau untuk menghadiri acara reunian SMA beberapa waktu lalu? Yang bahkan sebulan sebelumnya saya sudah sampaikan ke abi?
Abi tidakkah melihat saya sama sekali tidak menyimpan atau menyembunyikan sesuatu kesekecil apapun kecuali semuanya saya sudah menceritakannya kepada abi?
Iya benar bahwa perempuan memang memiliki fitrah paccarita dan jauh lebih cerewet dibanding laki-laki. Tapi untuk yang satu ini saya betul-betul tidak mengerti dengan apa yang abi pikirkan.
Masihkah abi merasa tidak perlu untuk menceritakan beberapa hal di dalam kehidupan abi kepada saya istri abi? Masihkah abi merasa saya tidak perlu tahu tentang beberapa hal tentang abi? Masihkah saya dianggap sebagai seseorang yang tidak terlalu penting di dalam hidup abi?
Ini bukan tentang renuian, atau tentang putra teman SMP abi yang mau kuliah, atau tentang isi obrolan di whatsapp. Ini tentang keterbukaan. Tentang komunikasi. Saya hanya ingin dihargai. Abi adalah imam saya. Saya tidak patut menggurui abi tentang hal yang semestinya abi sudah mengetahuinya. Saya cuma mengingatkan.
Kita manusia biasa. Seperti sabda Rasulullah, "Setiap Bani Adam pernah berbuat salah," dan "sebaik-baik orang yg berbuat salah adalah yang bertaubat".
***
I write these because i care. I care because i love you.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar